Selasa, 13 April 2010

Sinar Matahari di Pelabuhan Merak


Begitu terik pada siang hari. Debu-debu beterbangan saat kendaraan-kendaraan besar melintasi pintu masuk Jalan Raya Merak Bojonegara. Tak ada yang terasa, kecuali panas, gerah,dan kumuh.

Sepanjang jalan yang terlihat hanyalah hamparan lautyang dipenuhi kapal-kapal tongkang. Tabung-tabung besar berisi zat kimia juga menjadi pemandangan di sebelah barat jalan. Sementara di sebelah timur terlihat bukit-bukit tandus yang sebagian telah gundul, tanpa tanaman.

Cuaca mulai terasa sedikit sejuk saat memasuki Desa Pulorida, Kecamatan Pulo Merak. Kota Cilegon, yang berjarak 5 kilometer dari Pelabuhan Merak. Pohon-pohon besar tumbuh di sisi kanan dan kiri jalan, membuat teduh badan jalan yang sebenarnya sangat berdebu.

Dari kejauhan mulai terlihat hamparan pasir putih dan batu karang hitam. Beberapa rumah panggung yang terbuat dari kayu berdiri kokoh dipelataran berpasir putih. Di atas pintu pagar terlihat papan kecil bertuliskan "Pantai Pulorida"

Jika tidak ada papan petunjuk, mungkin tidak ada yang tahu jika daerah itu merupakan tempat wisata. Apalagi kalau pada hari kerja pintu masuk Pantai Pulorida terkunci rapat. "Kalau hari-hari biasa seperti ini, pantai memang tidak dibuka. Hanya hari Sabtu, Minggu, dan hari libur, pintu masuk itu dibuka," tutur Novi, seorang warga yang bermukim di seberang Pantai Wisata Pulorida.

Entah mengapa, para wisatawan jarang yang mengetahui keindahan Pulorida Merak ini, mereka hanya berkunjung ketika hari libur saja.

Padahal, dari tepi Pantai Pulorida, pengunjung bisa menikmati pemandangan dan aktivitas di Selat Sunda. Selain perahu nelayan, pengunjung juga dapat menikmati kapal-kapalbesar berikut kapal tongkang yang kebetulan berlabuh di dekat pantai.

Wisata pantai Pulorida Merak ini juga dipadati para pelancong dari berbagai daerah ketika malam pergantian tahun tiba. Mereka rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit dari saku mereka untuk menghabiskan waktu dan berkumpul bersama kerabat ataupun teman di Pulorida ini.

Selain wisata pantai, Pulorida justru lebih terkenal sebagai tempat hiburan malam. Sebuah hotel yang dilengkapi dengan restoran, diskotek, dan sarana hiburan lainnya kerap menjadi tempat wisata orang yang kebetulan singgah di Pelabuhan Merak.

Tidak sedikit pula warga sekitar Pulorida, mulai dari Merak, Cilegon, hingga Serang, yang menghabiskan malam di hotel tersebut. Maklum saja, biaya masuk tempat hiburan di Pulorida relatif murah dan terjangkau.

Untuk bisa masuk ke diskotek, seorang pengunjung cukup membayar Rp 20.000. Sedangkan, untuk biaya masuk, setiap pengunjung di kenakan biaya Rp. 25.000 per kendaraan, yang menurut tukang parkir biaya parkir kendaraan agak mahal karena menggunakan fasilitas hotel.

Di tengah Pulorida itu ada semacam pulau kecil yang bisa di capai dengan perahu sewaan. Selain itu, ada juga jembatan permanen. Namun, banyak pelancong yang men cari tempat yang teduh, mereka pun menyewa tikar dan berenang di hamparan pasir putih Pulorida.

Untuk menuju kawasan pantai Pulorida ini, para wisatawan tidak perlu repot, dari arah Jakarta dapat melalui jalur Tol kebon jeruk, tangerang hingga ujung Merak yang dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih


Pantai Kelapa Tujuh


Pulorida bukan satu-satunya tempat wisata yang bisa disinggahi di sepanjang jalan alternatif Merak-Bojonegara. Sekitar dua kilometer dari Pulorida terdapat sebuah pantai bernama Kelapa Tujuh. Namun, warga Mer£k lebih sering menyebut pantai Kelapa Pitu atau pantai kompleks. Menurut cerita turun-temurun, nama Kelapa Pitu diambil dari asal muasal pantai wisata itu. Dulu, sekitar tahun 1970-an, Haji Sarmani si pemilik tanah hanya menanam tujuh pohon kelapa. Jadi, saat itu pohon kelapanya tidak sebanyak sekarang, hanya tujuhbuah saja.

Adapun sebutan Pantai Kompleks terbentuk setelah PT Indonesia Power Suralaya membangun kompleks perumahan di sekitar pantai tersebut. Tidak seperti pantai-pantai pada umumnya, Pantai Kelapa Tujuh lebih teduh dan sejuk. Tepian pantai berpasir putih itu dipenuhi pepohonan rindang berusia tua.Pengunjung bisa leluasa duduk di bawah pohon rindang, sambil menikmati pemandangan Selat Sunda. Dari pantai itu pula bisa terlihat jajaran cerobong asap milik PLTU Suralaya. Seperti Pantai Pulorida, Kelapa Tujuh selalu ramai dikunjungi warga pada akhir pekan dan hari libur lainnya.

"Di sini pantainya adem, enggak sumpek. Selain itu, pedagangnya juga teratur, tempat jualannya rapi. Biasanya kalau di pantai selalu banyak pedagang asongan yang menawari barang. Jadi, kita susah buat santainya," kata Ani, seorang warga komplek Merak, yang sering datang ke Pantai Kelapa Tujuh karena kebetulan tempat tinggal nya bersebrangan dengan pantai Kelapa Tujuh.


Sumber: 

Harian Ekonomi Neraca, 24 Januari 2009, dalam :

http://www.indonesiapower.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=442:sinar-matahari-di-pelabuhan-merak&catid=1:beritaterkini&Itemid=18

Sumber Gambar:

http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pelabuhan_Merak_Port_of_Merak.JPG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar